Pujangga – Pujangga lama


Ini Dia tugas Sastra saya.. maaf kalau amburadul yaa.. haha..
Hamzah al-Fansuri

Hamzah al-Fansuri dikenal juga sebagai Hamzah Fansuri adalah seorang ulama sufi dan sastrawan yang hidup di abad ke-16. Meskipun nama 'al-Fansuri' sendiri berarti 'berasal dari Barus' (sekarang berada diprovinsi  Sumatra Utara) sebagian ahli berpendapat ia lahir di Ayuthaya, ibukota lama kerajaan Siam. Hamzah al-Fansuri lama berdiam di Aceh. Ia terkenal sebagai penganut aliran wahdatul wujud. Dalam sastra Melayu ia dikenal sebagai pencipta genre syair.

Prosa
§  Asrar al-Arifin
§  Sharab al-Asyikin
§  Zinat al-Muwahidin
Puisi
Nuruddin Al-Raniri 
Nuruddin Al-Raniri (lengkap: Syeikh Nuruddin Muhammad ibnu 'Ali ibnu Hasanji ibnu Muhammad Hamid ar-Raniri al-Quraisyi) adalah ulama penasehat Kesultanan Aceh pada masa kepemimpinanSultan Iskandar Tsani (Iskandar II).
Syaikh Nuruddin diperkirakan lahir sekitar akhir abad ke-16 di kota Ranir, India, dan wafat pada 21 September 1658. Pada tahun 1637, ia datang ke Aceh, dan kemudian menjadi penasehat kesultanan di sana hingga tahun 1644.

Pengetahuan yang dikuasai

Ar Raniri memiliki pengetahuan luas yang meliputi tasawuf, kalam, fikih, hadis, sejarah, dan perbandingan agama. Selama masa hidupnya, ia menulis kurang-lebih 29 kitab, yang paling terkenal adalah "Bustanus al-Salatin". Namanya kini diabadikan sebagai nama perguruan tinggi agama (IAIN) di Banda Aceh.
Peranan di Aceh
Ar-Raniri berperan penting saat berhasil memimpin ulama Aceh menghancurkan ajaran tasawuf falsafinya Hamzah al-Fansuri yang dikhawatirkan dapat merusak akidah umat Islam awam terutama yang baru memeluknya. Tasawuf falsafi berasal dari ajaran Al-Hallaj, Ibn 'Arabi, dan Suhrawardi, yang khas dengan doktrin Wihdatul Wujud (Menyatunya Kewujudan) di mana sewaktu dalam keadaansukr ('mabuk' dalam kecintaan kepada Allah Ta'ala) dan fana' fillah ('hilang' bersama Allah), seseorang wali itu mungkin mengeluarkan kata-kata yang lahiriahnya sesat atau menyimpang dari syariat Islam.
Maka oleh mereka yang tidak mengerti hakikat ucapan-ucapan tersebut, dapat membahayakan akidah dan menimbulkan fitnah pada masyarakat Islam. Karena individu-individu tersebut syuhud('menyaksikan') hanya Allah sedang semua ciptaan termasuk dirinya sendiri tidak wujud dan kelihatan. Maka dikatakan wahdatul wujud karena yang wajib wujudnya itu hanyalah Allah Ta'ala sedang para makhluk tidak berkewajiban untuk wujud tanpa kehendak Allah. Sama seperti bayang-bayang pada pewayangan kulit.
Konstruksi wahdatul wujud ini jauh berbeda malah dapat dikatakan berlawanan dengan faham 'manunggaling kawula lan Gusti'. Karena pada konsep 'manunggaling kawula lan Gusti', dapat diibaratkan umpama bercampurnya kopi dengan susu-- maka substansi dua-duanya sesudah menyatu adalah berbeda dari sebelumnya. Sedangkan pada faham wahdatul wujud, dapat di umpamakan seperti satu tetesan air murni pada ujung jari yang dicelupkan ke dalam lautan air murni. Sewaktu itu, tidak dapat dibedakan air pada ujung jari dari air lautan. Karena semuanya 'kembali' kepada Allah.
Maka pluralisme (menyamakan semua agama) menjadi lanjutan terhadap gagasan begini dimana yang penting dan utama adalah Pencipta, dan semua ciptaan adalah sama-- hadir di alam mayapada hanya karena kehendak Allah Ta'ala.
Maka faham ini, tanpa dibarengi dengan pemahaman dan kepercayaan syariat, dapat membelokkan akidah. Pada zaman dahulu, para waliullah di negara-negara Islam Timur Tengah sering, apabila di dalam keadaan begini, dianjurkan untuk tidak tampil di khalayak ramai.
Tasawuf falsafi diperkenalkan di Nusantara oleh Fansuri dan Syekh Siti Jenar. Syekh Siti Jenar kemudian dieksekusi mati oleh dewan wali (Wali Songo). Ini adalah hukuman yang disepakati bagi pelanggaran syariat, manakala hakikatnya hanya Allah yang dapat maha mengetahui.
Al-Hallaj setelah dipancung lehernya, badannya masih dapat bergerak, dan lidahnya masih dapat berzikir. Darahnya pula mengalir mengeja asma Allah-- ini semua karamah untuk mempertahankan namanya. Di Jawa, tasawuf falsafi bersinkretisme dengan aliran kebatinan dalam ajaran Hindu dan Budha sehingga menghasilkan ajaran kejawen.
Ronggowarsito (Bapak Kebatinan Indonesia) dianggap sebagai penerus Siti Jenar. Karya-karyanya, seperti Suluk Jiwa, Serat Pamoring Kawula Gusti, Suluk Lukma Lelana, dan Serat Hidayat Jati, sering diaku-aku Ronggowarsito berdasarkan kitab dan sunnah. Namun banyak terdapat kesalahan tafsir dan transformasi pemikiran dalam karya-karyanya itu. Ronggowarsito hanya mengandalkan terjemahan buku-buku tasawuf dari bahasa Jawa dan tidak melakukan perbandingan dengan naskah asli bahasa Arab. Tanpa referensi kepada kitab-kitab Arab yang ditulis oleh ulama ahli syariat dan hakikat yang mu'tabar seperti Syeikh Abdul Qadir Jailani dan Ibn 'Arabi, maka ini adalah sangat berbahaya.
Ar-Raniri dikatakan pulang kembali ke India setelah beliau dikalahkan oleh dua orang murid Hamzah Fansuri pada suatu perdebatan umum. Ada riwayat mengatakan beliau meninggal di India.

Karya-karyanya

§  Bustan al-Salatin (Taman Raja-raja)
§  Shiratal Mustaqim (Jalan yang Lurus)

Tun Muhamad Sri Lanang

Tun Sri Lanang merupakan seorang sastrawan Melayu. Ia dikenal sebagai penyunting dan penyusun Sulalatus Salatin.
Tun Sri Lanang merupakan gelaran, dan nama sebenarnya adalah Tun Muhammad, pada waktu penyusunan Sulalatus Salatin ia telah berkedudukan sebagai Bendahara pada Kesultanan Johor.

Penghargaan

Tun Sri Lanang dan Keluarganya diberi penghargaan khusus di Aceh. Di samping di angkat menjadi Raja di Samalanga dan Daerah Takluknya keluarganyapun di beri gelar kebesaran dan jabatan oleh Sultan. Seperti gelar Seri Paduka Tuan di Acheh (Daniel Crecelius & E.A. Beardow, A Reputed Achehnese Sarakata of The Jamalullail Dynasty, JMBRAS, vol 52, 1979 hlm 52), Puteranya Tun Rembau menjadi Panglima Aceh (Tun Sri Lanang, Sejarah Melayu (suntingan Shellabear) 1986 hlm 156). Cucunya (nama lupa) anak dari Tun Jenal (Zainal) dikawinkan dengan Sayyid Zainal Abidin dimana nenek Zainal Abidin ini adalah adik kakek sebelah lelaki sultan Iskandar Muda (baca Suzana Hj Othman, Institusi Bendahara Permata Melayu yang Hilang, penerbit Persatuan Sejarah Malaysia, Johor, hlm 181-183) Perkawinan ini merapatkan hubungan Raja Raja Negeri Melayu dengan Nanggroe Aceh Darussalam (

Pujangga Melayu

Tun Sri Lanang di samping ahli pemerintahan juga dikenal sebagai pujangga melayu. Karyanya yang menumental adalah kitab Sulalatus Salatin. Menurut Winstedt, kitab ini dikarang mulai bulan Februari 1614 dan siapnya Januari 1615 sewaktu menjadi tawanan di kawasan Pasai.
Apabila kita baca mukaddimah kitab ini, tidak jelas disebutkan siapa pengarang yang sebenarnya. Dan ini biasa dilakukan oleh oleh pengarang pengarang dahulu yang berusaha menyembunyikan penulis aslinya terhadap hasil karangannya. Bahkan menyebutkan dirinya sebagai fakir. Kalimat aslinya sbb; Setelah fakir allazi murakkabun 'a;a jahlihi maka fakir perkejutlah diri fakir pada mengusahakan dia, syahadan mohonkan taufik ke hadrat Allah, Tuhan sani'il - 'alam, dan minta huruf kepada nabi sayyidi'l 'anam, dan minta ampun kepada sahabat yang akram; maka fakir karanglah hikayat ini kamasami' tuhu min jaddi wa abi, supaya akan menyukakan duli hadrat baginda. Maka fakir namai hikayaat ini " Sulalatus Salatin" yakni "pertuturan segala Raja-Raja". (Baca Sulatus salatin hal 3)
Para ahli berbeda pendapat tentang pengarang sebenarnya kitab ini misalnya Winstedt, menyebut Tun Sri Lanang sebagai penyunting saja. Pendapat ini tidak punya landasan yang kuat, karena Syaikh Nuruddin al Raniri dalam kitabnya Bustanul Salatin fasal ke 12 bab II menyebutkan:
"Kata Bendahara Paduka Raja yang mengarang kitab misrat Sulalatus Salatin, ia mendengar daripada bapanya, ia mendengar dari pada neneknya dan datuknya, tatkala pada hijrat al Nabi salla 'llahu 'alaihi wa sallama seribu dua puluh esa, pada bulan Rabiul awal pada hari Ahad, ia mengarang hikayat pada menyatakan segala raja raja yang kerajaan di negeri Melaka, Johor, Pahang, dan menyatakan bangsa, dan salasilah mereka itu daripada Sultan Iskandar Zulkarnain_"
Pendapat ini lebih menyakinkan penulis apalagi Hj Buyong Adil, dalam bukunya Sejarah Johor menyatakan Tun Sri Lanang selalu berguru pada ulama ulama terkenal di Aceh, seperti Nurdin Arraniri, Tun Acheh, Tun Burhat, Hamzah Fansuri, Syeikh Syamsuddin Assumatrani. Dalam hal ini Syech Nurdin Arraniri tentu kenal baik dengan Tun Sri lanang. Wallahu a'lam.

Raja Ali Haji

Raja Ali Haji hidup pada akhir abad ke 19.Saudara sepupu Raja Ali Raja Muda Riau dari tahun 1844-1857.Jadi Raja Ali Haji sezaman dengan Abdullah  bin Abdulkadir Munsyi.Tetapi Abdullah digolongkan kedalam kesusasteraan baru.Sedangkan dia tidak( sezaman kesusasteraan lama).Karena Raja Ali Haji tidak membawa perubahan (pembaharuaan) apa-apa dalam  dunia kesusasteraan.Motif karangannya masih bercorak istana sentris,dan bergaya statis.Sedangkan Abdullah sudah bercorak masyarakat sentris dan realistis.Hasil karyanya
1.     Gurindam Dua Belas
2.     Silsilah Melayu
3.     Kitab Tuhfatun Nafis (Hadiah yang berharga)
4.     Bustanul katibin (Taman Penulis-penulis). Sebuah kitab tata bahasa.

Sedikit riwayatnya :
Raja Ali Haji dilahirkan di pulau penyengat,Riau.Dia adalah cucu Raja Haji.Pahlawan Bugis yang terkenal,yang gugur pada tahun 1784 di Teluk Ketapang  ketika berperang melawan Jacob Pieter van Braam (VOC) Ketika masih kanak-kanak.Ali Haji  telah pergi ke Mekah,dan beberapa tahun lamanya belajar disana,kemudian melanjutkan pendidikannya di Mesir.

Abdullah  bin Abdulkadir Munsyi

Abdullah  lahir pada tahun 1796 di Malaka,dan meninggal  di Jedah pada tahun 1854,ketika ia sedang dalam perjalanan menunaikan rukun islam yang ke lima.Moyang laki – lakinya  bernama Syekh Abdulkadir  berasal  dari Yaman (Arab),moyang perempuannya dari Nagore (India). Nenek laki – laki Abdullah bertempat  tinggal  di Malaka sebagai guru agama. Sedang moyang perempuannya  menjadi guru kepala pada suatu sekolah. Ayahnya bernama  Syekh  Abdulkadir,lahir di  Malaka,bekerja sebagai  pedagang dan guru agama.Jadi melihat  asal – usulnya,Abdullah  memiliki darah campuran (Arab,Keling dan Melayu)Karena itu Abdullah  disebut   “peranakan Melayu”.Dialah tokoh sastera  yang meliputi seluruh abad  ke-19,dan dapat dikatakan dia secara seorang diri “membentuk suatu zaman “ dan “genre kesusasteraan”.Dialah seorang pujangga yang mula – mula menulis  otobiografinya “Hikayat Abdullah  bin Abdulkadir Munsyi”.Sebelum dia,belum pernah ada pujangga Melayu  yang menulis dalam  bentuk biografinya atau otobiografi.(Hanya hikayat – hikayat dan silsilah – silsilah).Demikian  denagan munculnya Abdullah  dalam dunia sastera,lahirlah “genre baru”dalam prosa,ialah :biografi ,otobiografi,kisah dan memori.Karena Abdullah banyak memberikan  bantuan kepada orang-orang  Inggris (Milne dan Thomson) dalam menerjemahkan kitab – kitab agama Nasrani,maka oleh anak negeri (orang- orang daerahnya) ia disebut “Abdullah Padri.”.




This entry was posted in

Leave a Reply